Senin, 22 Februari 2016

AL-GHAZALI DAN KONSEP PENDIDIKANNYA



M A K A L A H                                                                                                                            
AL-GHAZALI  DAN KONSEP PENDIDIKANNYA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Para ahli sejarah telah menyaksikan bahwa ilmuwan-ilmuwan muslim itu bersih, jernih jiwanya dan dekat dengan Allah SWT, hatinya suci dari kejahatan dan dosa, sedang jasmani mereka kosong dari pengaruh duniawi hanya memusatkan perhatiannya kepada ilmu. Mereka diberi petunjuk dan hidayah Allah untuk mengetahui apa yang dikehendaki Allah.
 Oleh karena di kalangan umat islam, masalah hubungan hidup manusia dengan Tuhannya, hubungan dengan masyarakat, hubungan dengan alam sekitar, telah dianalisa oleh ahli-ahli pikir muslim, sehingga membuahkan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan seni budaya serta norma-norma yang diimbangi dengan ketrampilan megerjakannya serta mengamalkannya.seperti Al-ghazali yaitu seorang ahli pikir muslim.

B.     Rumusan Masalah
1.    Bagaimana  Riwayat  hidup  Al-ghazali?
2.    Bagaimana  Konsep Pendidikan Al-ghazali?
3.    Bagaimana Ajaran Tasawuf Al-Ghazali?

C.    Tujuan Pembahasan
1.    Mengetahui   Riwayat  hidup  Al-ghazali
2.    Mengetahui   Konsep Pendidikan Al-ghazali
3. Mengetahui  Ajaran Tasawuf Al-Ghazali.



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Riwayat Hidup Al-ghazali
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-ghozali Secara singkat dipanggil Al-ghazali atau Abu Hamid Al-ghazali. Beliau dilahirkan di Ghazlah, suatu kota di khurasan, Iran.pada tahun 450 H/1058 M.tiga tahun setelah kaum saljuk mengambil alih kekuasaan di Baghdad. Ayah Al-ghazali adalah seorang pemintal kain wol miskin yang taat, menyenangi ulama’ dan aktif menghadiri majlis-majlis pengajian.ketika menjelang wafatnya, ayahnya menitipkan al-ghazali dan adiknya Ahmad kepada seorang sufi. Sufi tersebut mendidik dan mengajar keduanya, sampai suatu hari harta titipan ayahnya habis dan sufi itu tidak mampu lagi member makan keduanya. Selanjutnya sufi itu menyarankan keduanya untuk belajar pada pengelola sebuah madrasah sekaligus untuk menyambung hidup mereka.
Di madrasah tersebut, Al-Ghazali mempelajari ilmu fiqih kepada Ahmad bin Muhammad Ar-Rizkani. Kemudian Al-Ghazali memasuki sekolah tinggi Nizamiyah di Naisabur dan disinilah ia berguru kepada Imam Haramain (Al-juwaini, wafat 478/1086 M) hingga menguasai ilmu manthiq, ilmu kalam ,fiqh- ushul fiqh, filsafat, tasawuf dan ilmu agama lainnya. Al-Ghazali tidak saja belajar kepada Al-juwaini, tetapi juga belajar teori-teori tasawuf kepadaYusuf An-Nasaj. Ilmu-ilmu  yang didapatkannya dari Al-juwaini benar-benar dikuasai oleh Al-Ghazali, termasuk perdebatan pendapat dari para ahli ilmu tersebut. Ia pun mampu memberikan sanggahan kepada penentangnya. Karena kemahirannya dalam masalah ini Al-Juwaini menjuluki Al-Ghazalidengan sebutan “ Bahr Mu’riq” (lautan yang menghanyutkan).  
Keikutsertaan Al-Ghazali dalam suatu diskusi bersama sekelompok ulama’ dan intelektual dihadapan Nidzam Al-Mulk membawa kemenangan baginya, Nidzam Al-Mulk berjanji akan mengangkatnya sebagai guru besar di Universitas yang didirikannya di Baghdad pada tahun  483 H/ 1090 M.
Meskipun usianya yang baru 30 tahun .selain mengajar , ia juga aktif megadakan perdebatan dengan golongan-golongan yang berkembang pada saat itu. Setelah empat tahun beliau memutuskan untuk berhenti mengajar dan meninggalkan Baghdad, setelah itu beliau ke Syiria, palistina dan kemudian ke Mekah untuk mencari kebenaran. Dan mendalami agama. Kemudian sewaktu-waktu beliau kembali ke Baghdad untuk kembali mengajar disana, kitab pertama yang dikarangnya adalah Al-Munqidz min al-Dholal. Sekembalinya ke Baghdad sekitar sepuluh tahun, beliau ke Nisabur dan sibuk mengajar di sana dalam waktu yang tidak lama, setelah itu beliau  kembali ke tempat asalnya di Thusia menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu . Hal ini terbukti setelah kembali ke Thusia beliau membangun sebuah madrasah disamping rumahnya. Beliau juga masih sempat untuk mengajar dan menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan.  Beliau meninggal di Thus, pada tanggal 19 Desember 1111 Masehi, atau pada hari senin 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriyah. Saat itu usia baru 55tahun. Al-ghazali meninggalkan 3 orang anak perempuan sedang anak laki-lakinya yang bernama Hamid telah meninggal dunia ssemnjak kecil sebelum wafatnya(Al-ghazali) dank arena anaknya inilah ia dipanggil “Abu Hamid” (Bapak si Hamid). 

B.  Konsep Pendidikan  Al-ghazali
       Untuk mengetahui konsep pendidikan Al-Ghazali, dapat diketahui dengan cara memahami pemikirannya yang berkenaan dengan berbagai aspek yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu : Tujuan, kurikulum, metode, etika guru, dan etika murid.
1.      Tujuan Pendidikan
       Tujuan pendidikan menurut al-ghazali ada dua yaitu tercapainya kesempurnaan insane yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah Swt, kedua, kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat.tujuan itu tampak bernuansa religious dan moral, tanpa mengabaikan masalah duniawi. Akan tetapi, disamping bercorak agamis yang merupakan cirri spesifik pendidikan islam, tampak pula cenderung pada sisi keruhanian. Kecenderungan tersebut sejalan dengan filsafat al-ghazali yang bercorak tasawuf. Manusia akan sampai pada tingkat ini hanya dengan menguasai sifat keutamaan melalui jalur ilmu. Keutamaan itulah yang akan membuat bahagia di dunia dan mendekatkan kepada Allah Swt.sehingga bahagia kelak di akhirat. Tujuan yang dirumuskan al-ghazali tersebut dipengaruhi oleh ilmu tasawuf yang dikuasainya. Karena ajaran tasawuf memandang dunia bukan hal yang utama,tidak abadi dan akan rusak, sedangkan maut dapat memutuskan kenikmatannya setiap saat.
Dunia merupakan tempat lewat sementara, tidak kekal. Sedangkan akhirat adalah desa yang kekal dan maut senantiasa mengintai setiap manusia.
Kurikulum pendidikan 
Al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga bagian, yaitu :
1.        Ilmu yang tercela, sedikit atau banyak. Ilmu yang tidak ada manfaatnya baik di dunia maupun di akhirat. Seperti : ilmu nujum, sihir, dan ilmu perdukunan. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa mudharat bagi yang memilikinya maupun orang lain, dan meragukan Allah swt.
2.        Ilmu terpuji, sedikit atau banyak, misalnya ilmu tauhid, dan ilmu agama. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa orang kepada jiwa yang suci bersih dari kerendahan dan keburukan serta mendekatkan diri kepada Allah swt.
3.        Ilmu yang terpuji dalam taraf tertentu, dan tidak boleh didalami, karena dapat membawa kepada goncangan iman. Seperti ilmu filsafat.
Dari ketiga kelompok tersebut, Al-ghazali membagi lagi menjadi dua bagian dilihat dari kepentingannya, yaitu :
1.        Ilmu yang fardhu (wajib) untuk diketahui oleh semua orang muslim yaitu ilmu agama.
2.        Ilmu yang merupakan farhu kifayah untuk dipelajari setiap muslim, ilmu tersebut dimanfaatkan untuk memudahkan urusan duniawi. Seperti: ilmu hitung, kedokteran, teknik, ilmu pertanian,industry dll.
Dalam menyusun kurikulum pelajaran, Al-ghazali member perhatian khusus pada ilmu-ilmu agama dan etika sebagaimana yang dilakukannya terhadap ilmu-ilmu yang sangat menentukan bagi kehidupan masyarakat. Kurikulum menurut Alghazali didasarkan pada dua kecenderungan sebagai berikut :
a.    Kecenderungan agama dan tasawuf. Kecenderungan ini membuat Al-ghazali menempatkan ilmu-ilmu agam diatas segalanya dan memandang sebagai alat untukmmenyucikan diri dan membersihkannya dari pengaruh kehidupan dunia.
b.    Kecenderungan pragmatis. Kecenderungan ini tampak dalam karya tulisnya. Al-ghazali beberapa kali mengulangi penilaian terhadap ilmu berdasarkan manfaatnya bagi manusia.baik kehidupan di dunia maupun untuk kehidupan akhirat. Ia menjelaskan bahwa ilmu yang tidak bermanfaat bagi manusia merupakan ilmu yang tak bernilai. Bagi al-ghazali, setiap ilmu harus dilihat dari fungsidan kegunaannya dalam bentuk amaliyah.
3.     Metode pengajaran
       Perhatian Al-ghazali akan pendidikan agama dan moral sejalan dengan kecenderungan pendidikannya secara umum, yaitu  prinsip-prinsip yang berkaitan secara khusus dengan sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya.tentang pentingnya keteladanan utama dari seorang guru, jika dikaitkan dengan pandangannya tentang pekerjaan  mengajar. Menurutnya mengajar adalah pekerjaan yang paling mulia sekaligus yang paling agung. Pendapatnya ini, ia kuatkan dengan beberapa ayat alqur’an dan hadits Nabi yang mengatakan status guru sejajar dengan tugas kenabian. Lebih lanjut Al-ghazali mengatakan bahwa wujud termulia di muka bumi ini adalah manusia, dan bagian inti manusia yang termulia adalah hatinya. Guru bertugas menyempurnakan, menghias, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
       Bahkan kaum muslimin pada zaman dahulu amat mementingkan menuntut ilmu yang langsung diterima dari mulut seorang guru. Mereka tidak suka menuntut ilmu dari buku-buku dan kitab-kitab saja, sebagaian mereka berkata “Diantara malapetaka yang besar yaitu berguru pada buku, maksudnya belajar dengan membaca buku tanpa guru”. Dalam sebuah kitab dikatakan barang siapa yang tiada berguru, maka syetanlah imamnya“. 
Dalam masalah pendidikan, Al-ghazali lebih cenderung berfaham empirisme, oleh karena itu beliau sangat menekankan pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Anak adalah amanat yang dipercayakan kepada orang tuanya, hatinya bersih, murni, laksana permata yang berharga, sederhana dan bersih dari ukiran apapun. Ia dapat menerima tiap ukiran yang digoreskan kepadanya dan akan cenderung kearah yang kita kehendaki. Oleh karena itu, bila ia dibiasakan dengan sifat-sifat yang baik, maka akan berkembanglah sifat-sifat yang baik pula. Sesuai dengan hadits Rosululloh Saw: “ Setiap anak dilahirkan dalam keadaan bersih, kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi penganut Yahudi, Nasrani, dan Majusi.” (HR.Muslim)
4.    Kriteria Guru Yang Baik
Menurut Al-Ghazali, bahwa guru yang dapat diserahi tugas mengajar adalah guru  yang cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya. Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan denganakhlaknya guru dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya guru dapat melaksanakan tugasnya mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak muridnya.
Selain sifat-sifat umum diatas, seorang guru juga memiliki sifat-sifat khusus sebagai berikut :
·         Mencintai murid seperti mencintai anaknya sendiri
·         Jangan mengharapkan materi sebagai tujuan utama karena mengajar adalah tugas yang diwariska Rosulluloh Saw.
·         Mengingatkan murid tujuan menuntut ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah swt.
·         Harus mendorong muridnya untuk mencari ilmu yang bermanfaat.
·         Memberikan tauladan yang baik di mata muridnya sehingga murid senang mencontoh tingkah lakunya.
·         Mengajarkan pelajaran sesuai tingkat kemampuan akal anak didik.
·         Harus mengamalkan ilmunya.
·         Mengetahui jiwa anak didiknya & mendidik keimanan kedalam pribadi anak.
5.    Sifat Murid yang baik
Sejalan dengan tujuan pendidikan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah.maka belajar termasuk ibadah. Dengan dasar pemikiran tersebut  maka seorang murid yang baik memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
·         Memulyakan guru dan bersikap rendah hati.
·         Saling menyayangi sesame teman dan tolong menolong.
·         Mempelajari bermacam-macam ilmu dari tiap-tiap ilmu tersebut.
·         Berjiwa bersih, harus terhindar dari perbuatan hina dan tercela.
·         Mendahulukan mempelajari yang wajib & mempelajari ilmu secara bertahap.
·         Mengetahui nilai setiap ilmu yang dipelajarinya.
6.    Ganjaran dan Hukuman
Selanjutnya Al-Ghazali berkata : apabila anak-anak itu berkelakuan baik dan melakukan pekerjaan yang bagus, hormatilah ia dan hendaknya diberi penghargaan dengan sesuatu yang menggembirakannya, serta dipuji dihadapan orang banyak. Jika melakukan kesalahan satu kali, hendaknya pendidik membiarkan dan jangan dibuka rahasianya. Jika anak itu mengulangi lagi, hendaknya pendidik memarahinya dengan tersembunyi, bukan dinasehati di depan orang banyak dan janganlah  pendidik seringkali memarahi anak itu.karena hal itu dapat menghilangkan pengaruh pada diri anak, sebab sudah terbiasa telinganya mendengarkan amarah itu.
Metode pemberian hadiah dan hukuman untuk tujuan mendidik dipandang senagai metode yang aman. Terlalu banyak melarang dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Demikian pula terlalu banyak memberikan pujian tidak menjadi penyebab terjadinya perbaikan. Berbagai kesempatan al-ghazali menerangkan bahwa membesarkan anak dengan kemanjaan, bersenang-senang dan bermalas –malasan serta meremehkan pergaulan bersama orang lain termasuk perkara yang tidak baik karena membesarka anak dengan cara ini akan merusak akhlaknya.


D.   Ajaran Tasawuf Al-Ghazali
Didalam tasawufnya, Ai-Ghazali memilih tasawuf sunni yang berdasarkan Al-quran dan sunnah Nabi ditambah dengan doktrin Ahlu Al-Sunnah wa al-jamaah. Tasawuf Al-Ghazali benar-benar bercorak islam . corak tasawufnya adalah psiko-moral yang mengutamakan pendidikan moral.  Jalan menuju tasawuf dapat dicapai dengan cara mematahkan hambatan-hambatan jiwa, serta membersihkan diri dari moral yang tercela, sehingga kalbu lepas dari segala sesuatu selain Allah dan selalu mengingat Allah.ia berpendapat bahwa sosok sufi menempuh jalan kepada Allah, perjalanan hidup mereka adalah yang terbaik, yang paling benar, dan moral mereka adalah yang paling bersih. Sebab gerak dan diam mereka baik lahir maupun bathin diambil dari cahaya kenabian.selain cahaya kenabian di dunia ini tidak ada lagi cahaya yang lebih mampu member penerangan.
Al-Ghazali sangat menolak paham hulul dan ittihad. Untuk itu ia menyodorkan paham baru tentang ma’rifat yakni pendekatan diri kepada Allah( taqarrub ila allah ) tanpa diikuti penyatuan dengannya. Jalan menuju ma’rifat adalah perpaduan ilmu dan amal, sedangkan buahnya adalah moralitas.
Ma’rifat menurut Al-Ghazali diawali dalam bentuk latihan jiwa, lalu diteruskan dengan menempuh fase-fase pencapaian rohani dalam tingkatan-tingkatan (maqamat) dan keadaan (ahwal) oleh karena itu beliau mempunyai jasa besar dalam dunia islam karena mampu memadukan antara ketiga kubu keilmuan islam yakni tasawuf, fiqih, dan ilmu kalam.yang sebelumnya banyak menimbulkan terjadinya ketegangan. Al-Ghazali menjadikan tasawuf sebagi sarana untuk berolah rasa dan berolah jiwa , hingga sampai pada ma’rifat yang membantu menciptakan (sa’adah).
a.       Pandangan Al-Ghazali tentang Ma’rifat
Menurut Al-Ghazali, sebagaimana dijelaskan oleh Harun nasution, Ma’rifat adalah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan –peraturan Tuhan tentang segala yang ada.  Alat untuk memperoleh ma’rifat bersandar pada sir, qalb, dan roh. Harun Nasution juga menjelaskan pendapat Al-Ghazali yang dikutip dari Al-Qusyairi bahwa qalb dapat mengikuti hakikat segala yang ada.
Jika dilimpahi cahaya Tuhan qalb dapat mengetahui rahasia-rahasia Tuhan dengan sir,qalb dan roh yang telah suci dan kosong, pada saat itulah ketiganya menerima iluminasi (kasyf)dari Allah dengan menurunkan cahayaNya kepada sang sufi sehingga yang dilihat sang sufi hanyalah Allah.  Disini sampailah ia ke tingkat ma’rifat. Di dalam kitab Ihya’ ‘Ulum Ad-Din, Al-Ghazali membedakan jalan pengetahuan untuk sampai kepada Tuhan bagi orang awam, ulama’, dan orang arif (sufi). Ma’rifatyang dicapai oleh para khawas auliya’ tanpa melalui perantara atau langsung dari Allah sebagaimana ilmu kenabian yang diperoleh langsung dari Tuhan walaupun dari segi perolehan ilmu ini, berbeda antara nabi dan wali. Nabi mendapat ilmu Allah melalui perantara malaikat.  Sedangkan Wali mendapat ilmu melalui Ilham. Namun kedua-duanya sama-sama memperoleh ilmu dari Allah.
b.      Pandangan Al-Ghazali As-Sa’adah
Menurut Al-Ghazali kelezatan dan kebahagiaan yang paling tinggi adalah melihat Allah (ru’yatullah). As-sa’adah (kebahagiaan) itu sesuai dengan watak (tabiat). Sedangkan watak sesuatu itu sesuai dengan ciptaannya.nikmatnya mata terletak ketika melihat gambar yang bagus dan inda, nikmatnya telinga terletak ketika mendengar suara yang merdu. Demikian juga seluruh anggota tubuh mempunyai kenikmatan tersendiri.
Kelezatan dan kenikmatan dunia bergantung pada nafsu dan akan hilang setelah manusia mati. Sedangkan Kelezatan dan kenikmatan melihat Tuhan bergantung pada qalb dan tidak akan hilang walaupun sudah mati. Hal ini karena qalb tidak ikut mati, malah kenikmatannya bertambah karena dapat keluar dari kegelapan menuju cahaya terang.
Adapun karya-karya Al-Ghazali yaitu antara lain :                                                                                                    
1.      Di Bidang Filsafat
* Maqasid al-Falasifah
* Tafahut al-Falasifah
* Al-Ma’rif al-‘aqliyah
2.  Dibidang Agama
     *  Ihya’ Ulumuddin
     *  Al-munqiz minal dhalal
             * minhaj Al-abidin
      3.  Dibidang Akhlak Tasawuf
            *  Mizan Al-amal
            *  kitab Al-Arbain
            *  Mishkatul Anwar
            *  Al-Adab fi Dien
            *  Ar-rislah al-laduniyah
       4.  Dibidang Kenegaraan
            * Mustaz hiri
            * Sirr Al-amin
            *  Nasihat AlMuluk
            * Suluk Al-suthanah.









BAB III
PENUTUP
Kesimpulan :
1.      Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-ghozali Secara singkat dipanggil Al-ghazali atau Abu Hamid Al-ghazali. Beliau dilahirkan di Ghazlah, suatu kota di khurasan, Iran.pada tahun 450 H/1058 M.tiga tahun setelah kaum saljuk mengambil alih kekuasaan di Baghdad. Ayah Al-ghazali adalah seorang pemintal kain wol miskin yang taat, menyenangi ulama’ dan aktif menghadiri majlis-majlis pengajian.
2.      Untuk mengetahui konsep pendidikan Al-Ghazali, dapat diketahui dengan cara memahami pemikirannya yang berkenaan dengan berbagai aspek yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu : Tujuan, kurikulum, metode, etika guru, dan etika murid.
3.      Didalam tasawufnya, Al-Ghazali memilih tasawuf sunni yang berdasarkan Al-quran dan sunnah Nabi ditambah dengan doktrin Ahlu Al-Sunnah wa al-jamaah. Tasawuf Al-Ghazali benar-benar bercorak islam . corak tasawufnya adalah psiko-moral yang mengutamakan pendidikan moral.  Jalan menuju tasawuf dapat dicapai dengan cara mematahkan hambatan-hambatan jiwa, serta membersihkan diri dari moral yang tercela, sehingga kalbu lepas dari segala sesuatu selain Allah dan selalu mengingat Allah.
Menurut Al-Ghazali, sebagaimana dijelaskan oleh Harun nasution, Ma’rifat adalah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan –peraturan Tuhan tentang segala yang ada. kebahagiaan yang paling tinggi adalah melihat Allah (ru’yatullah). As-sa’adah (kebahagiaan) itu sesuai dengan watak (tabiat). Sedangkan watak sesuatu itu sesuai dengan ciptaannya

ARTI PENTING BELAJAR



Makalah Pengantar Psikologi
ARTI  PENTING BELAJAR

BAB  I
PENDAHULUAN

A.         Latar Belakang Masalah
Sebelum kami membahas karya tulis ini terlebih dahulu kami memberitahukan judul yang akan kami bahas dalam makalah ini, yaitu arti penting belajar.
     Secara alamiah manusia tumbuh dan berkembang sejak dalam kandungan sampai meninggal mengalami proses tahap demi tahap. Manusia tidak mampu akan mampu mencapai kesempurnaan tanpa adanya proses belajar yang disebut belajar. Belajar, sebagai usaha memupuk dan mengembangkan pribadi manusia  dari aspek rohani dan jasmani. Belajar sebagai proses mengarahkan manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan mengangkat derajat manusia  sesuai fitrahnya. Belajar sangat penting untuk peserta didik, terutama dalam mengantisipasi kebodohan sebagai dampak negative dan era persaingan bebas yang melanda dunia.
     Tujuan belajar dapat tercapai secara maksimal jika para pelaku kedisiplinan yang baik dalam penerimaan materi belajar sebagai langkah awal untuk menguasai ilmu yang diberikan.

B.          Rumusan Masalah
a. Apa pengertian belajar dan contoh belajar.?
b  Apa arti penting belajar?
c. Apa saja prinsip-prinsip belajar?
d. Faktor apa saja yang mempengaruhi proses belajar?
e. Bagaimana cara belajar efektif ?
f. Apa saja teori-teori pokok belajar ?

C.         Tujuan pembahasan
a. Memahami apa penertian belajar dan contoh belajar
b. Memahami apa arti penting belajar
c. Memahami apa saja prinsip-prinsip belajar
d. Mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi proses belajar
e  Mengerti  bagaimana cara belajar efektif
f.  Mengerti apa saja teori-teori pokok belajar

BAB II
PEMBAHASAN

A.  PENGERTIAN BELAJAR DAN CONTOH BELAJAR
      1.  Definisi belajar
            Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan amat bergantung pada proses belajar yang dialami seseorang baik ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah[1].
            Pengertian belajar menurut howard C. kingsley adalah proses dimana tingkah laku  (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan[2]. Sedangkan menurut Drs. Slamet belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh  suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan[3]. Sedangkan menurut Ilmuwan yang bernama  Chaplin (1972) dalam bukunya dictionary of psycology membatasi belajar dalam 2 rumusan..
Rumusan  I   :    Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat dalam pengalaman.
RumusanII   :    Belajar adalah  proses memperoleh respon sebagai akibat adanya latihan khusus.
            Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar yang dikemukakan diatas, belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang diperoleh dari hasil latihan dan pengalaman dan didukung interaksi individu dengan lingkungannya[4].
2.  Contoh belajar
Dalam mempermudah pemahaman anda mengenai bagaimana sebenarnya  proses belajar itu berlangsung berikut inidikemukakan contoh sederhana sebagai gambaran;
            Seorang anak balita memperoleh mobil-mobilan dari ayahnya, lalu ia mencoba mainan tersebut dengam cara memutar kuncinya dan meletakannya  pada suatu permukaan, perilaku memutar dan meletakan tersebut merupakan respons atau reaksi atas rangsangan yang timbul pada mainan tersebut. Sehubungan dengan contoh ini, belajar dapat kita pahami sebagai proses tingkah laku yang ditimbulkan melalui reaksi atas situasi rangsangan yang ada[5] .

B.  ARTI PENTING BELAJAR
          Belajar  adalah key trem (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap pendidikan, sehingga tanpa belajar sesunguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai proses belajar selalu mendapatkan tempat yang luasdalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan; karena demikian demikian pentingnya arti belajar, bagian tersebut merupakan riset dan eksperimen psikologi dalam memahami proses  perubahan manusia[6] .

C.  PRINSIP-PRINSIP BELAJAR
          Berdasarkan pendekatan tertentu maka prinsip-prinsip belajar dapat dikelompokkan  menjadi dua, yaitu prinsip-prinsip belajar yang bersifat psikologis dan prinsip- prinsip belajar yang bersifat linguistik  (materi  dan metodik).
1)   Prinsip prinsip belajar yang bersifat psikologis
a) Motivasi, lazim diartikan sebagai sebagai hal yang mendidik seseorang  untuk berbuat sesuatu.
      b) Pengalaman sendiri, atau apa yang dialami sendiri akan lebih menarik        dan berkesan dari pada mengetahui orang lain.
c)  Keingintahuan, merupakan kodrat manusia yang menyebabkanb manusia   itu maju .
      d) Pemecahan masalah, seseorang yang belajar tidak dapat dipisahkan denganberbagai macam masalah.
      e)  Berfikir analistis _sintesis
berfikir secara analitis adalah berusaha mengenal sesuatu dengan cara  mengenali ciri-ciri atau unsur-unsur yang ada pada suatu itu. Sedangkan berfikir secara sintesis adalah proses berfikir untuk menemukan hubungan ciri-ciri yang disebutkan dalam jawaban-jawaban sehingga terjadi rumusan.
f)  Perbedaan individual, perbedaan individu meskipun sedikit pasti terdapat antara seseorang dengan orang lain.
2)   Prinsip-prinsip belajar yang bersifat linguistic
            Seperti yang dirumuskan oleh Abdul Choes dan Leonie agustina (2004: 206)
a)    Mudah menuju sukar, pemberian materi harus mulai dari yang mudah  kemudian dikuti dengan yang sukar atau yang lebih sukar
b)    Sederhana menuju kompleks, pelajaran yang dimulai dari yang sederhana baru diikuti dengan yang kompleks.
c)    Dekat menuju jauh ,pemberian materi pelajaran harus dimulai dari yang ada di dekat anak didik, baru kemudian secara berangsur-angsur menuju agak jauh.
d)    Pola menuju unsur, materi yang diberikan harus berupa satu kebulatan, baru diberikan unsur-unsur dari kebulatan itu.
e)    Penggunaan menuju pengetahuan
f)     Masalah bukan kebiasan
g)    Kenyataan bukan buatan, belajar adalah kenyataan yang harus dhadapi[7].

D.  FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
            Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
1)    Faktor internal (faktor yang dari dalam diri seseorang ) yakni keadaan rohani dan jasmani saeseorang
2)  Faktor eksternal ( faktor yang dari luar diri seseorang) yakni kondisi lingkungan disekitarnya.
3)     Faktor pendekatan belajar, yakni jenis upaya belajar seseorang yang meliputi strategi dan metode yang digunakan seseorang untuk melakukan kegiatan yang mempelajari sesuatu.

a)  Faktor internal meliputi :
1)     Aspek fisiologis yaitu kondisi jasmani seseorang dapat mempengaruhiproses belajar
2)     Aspek Psikologis,  hal ini dapat mempengaruhi kwantitas dan kualitas seseorang, diantara faktor-faktor rohaniyah seseorang yang dipandang lebih esen adala sebagai berikut :
a)    Kecerdasan / intelegensi
             Kecerdasan pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psikofisik untuk mereaksi rangsang atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat( Reber ,1988).
b)   Bakat
             Secara umum bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa akan datang ( Chaplin, 1972 ; Reber 1988)
c)    Minat
               Secara sederhana minat adalah kecenderungan  dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar  terhadap suatu hal.
d)    Motivasi
              Motivasi merupakan keadaan internal organisme baik manusia maupun lingkungan yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah ( Glaitman ,1986 :Reber 1988)
e)    Sikap
              Sikap adalah gejala internal yang berdimensi efektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif  tetap terhadap objek apapun baik secara positif maupun negatif.
b)  Faktor eksternal meliputi :
1.     Lingkungan sosial
         Lingkungan social yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan    belajar ialah orang tua  dan keluarganya sendiri.
2.      Lingkungan Nonsosial
         Yang termasuk lingkungan nonsosial ialah  gedung sekolah dan   letaknya, alat-alat belajar, cuaca, dan waktu belajar.
c)  Faktor  Pendekatan Belajar
             Seseorang yang terbiasa mengaplikasikan belajar “deep” misalnya, mungkin sekali berpeluang untuk meraih prestasi yang bermutu dari pada seseorang yang menggunakan pendekatan belajar “ surface” atau  “reproductive “[8]

E.  CARA-CARA BELAJAR EFEKTIF
      a)     Metode SQ3R
                    Metode ini dikembangkan oleh Francis P.Robinson Universitas Negeri Ohio Amerika Serikat. SQ3R merupakan singkatan langkah-langkah mempelajari teks yang meliputi :
1.      Survey , maksudnya memeriksa atau meneliti seluruh teks.
2.      Question, maksudnya menyusun daftar pertanyaan yang relevan dengan       teks.
3.      Read, maksudnya membaca teks secara aktif .
4.      Recite, menghafal setiap jawaban yang ditemukan.
5.      Review, meninjau ulang seluruh jawaban atas pertanyaan yang tersusun.    
       b)    Metode PQ4R
                      Metode ini ciptaan Thomas Q Robison (1972) yang pada hakikatnya merupakan penimbul pertanyaan dan tanya jawab yang mendorong pembaca melakukan pengolahan materi secara lebih luas.
1.      Preview, mensurvei lebih dahulu untuk menentukan topik umum yang      terdapat didalamnya.
2.      Questions,  menyusun pertanyaan-pertanyaan yang relevan.
3.      Read, isi hendaknya dibaca secara cermat.
4.      Reflect, berusaha memikirkan dan mengenang isi yang berhasil ditangkap
5.      Recite, mengingat-ingat informasi yang didapat dan berusaha menjawab semua pertanyaan yang telah tersusun.
6.      Review, menjawab sekali lagi seluruh pertanyaan yang tersusun.[9]

F.   TEORI-TEORI POKOK BELAJAR
a)    Teori belajar menurut ilmu jiwa daya
Daya adalah kekuatan yang tersedia dalam diri seseorang. Manusia hanya memanfaatkan semua daya itu dengan cara melatihnya sehingga ketajamannya dirasakan ketika dipergunakan untuk suatu hal. Misalnya daya mengenal, daya mengingat, daya berfikir, daya fantasi dan sebagainya.
b)    Teori tanggapan
Teori ini dikemukakan oleh Herbart, dimana ia menentukan teori yang dikemukakan oleh ilmu jiwa daya. Menurut ilmu tanggapan, belajar adalah memasukan tanggapan sebanyak-banyaknya, berulang-ulang dan sejelas – jelasnya. Banyak tanggapan berarti dikatakan pandai
c)    Teori belajar menurut ilmu jiwa Gesalt
Merupakan teori belajar yang dikemukakan oleh Koffka dan Kohler dari jerman. Teori ini berpandangan  bahwa keseluruhan lebih penting dari bagian-bagian. Belajar dengan pengertian lebih dipentingkan dari pada hanya memasukan sejumlah kesan.
Prinsip-prinsip belajar menurut teori Gesalt :
1.        Belajar berdasar keseluruhan
2.        Belajar adalah  suatu proses perkembangan
3.        Anak didik sebagai organisme keseluruhan
4.        Terjadi transfer, dengan kata lain dapat dipakai untuk mempelajari hal-hal yang lain
5.        Belajar adalah reorganisasi pengalaman
6.        Belajar harus dengan insight ( pengertian)
7.        Belajar akan lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan
8.        Belajar berlangsung terus –menerus
d)    Teori belajar dari R. Gagne
Gagne memberikan dua difinisi mengenai belajar :
1.        Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motifasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasan dan tingkah laku.
2.        Belajar adalah pengetahuan atau ketrampilan yang diperoleh dari instruksi
Gagne menyatakan bahwa segala sesuatu yang dipelajari oleh manusia dapat dibagi menjadi 5 kategori yang disebut the domainds of learning :
1.        Ketrampilan motoris (motor skill)
2.        Informasi verbal
3.        Kemampuan intelektual
4.        Strategi kognitif
5.        Sikap
e)    Teori belajar menurut ilmu jiwa Asosiasi (teori sarbond)
Teori sarbond singkatan dari Stimulus (rangsangan), Respons  (tanggapan) Bond (dihubungkan). Rangsangan diciptakan untuk memunculkan tanggapan kemudian dihubungkan antara keduanya dan terjadilah asosiasi. Dari teori ini ada dua teori yang sangat terkenal yaitu teori konektionisme (Thorndike) dan teori conditioning (Ivan P. Paulov)
1.    Teori konektionisme
Thorndike  menyimpulkan bahwa respon lepas dari kurungan itu lambat laun diasosiasikan dengan situasi stimulasi dalam belajar coba-coba, ini kesimpulan Thourndike terhadap perilaku binatang dalam kurungan.
Ada 3 hukum belajar yang utama dari teori ini :
a)        Hukum efek
b)        Hokum latihan
c)        Hokum kesiapan
Terhadap teori konektionisme ini ada beberapa kelemahan dalam pelaksanaanya; yaitu :
a)        Belajar menurut teori ini mekanistis ( banyak menghafal tapi kurang mengerti)
b)        Pelajar bersifat teacher centered ( terpusat pada guru )
c)        Anak didik pasif
d)       Lebih mengutamakan materi.
Pola belajar ini cenderung intelektualistik
2.    Teori Conditioning
Teori ini terjadi karena kondisinya diciptakan, maka sudah menjadi kebiasaan sehingga memunculkan  refleks bersyarat.
Kelemahan – kelamahan teori ini
a)        Percobaan dalam laboratorium berbeda dengan kenyataanya
b)        Pribadi seseorang dapat mempengaruhi hasil eksperimen
c)        Respons mungkin  dipengaruhi oleh stimuklus yang tak dikenal
d)       Teori ini sangat sederhana dan tidak memuaskan untuk menjelas segala seluk beluk belajar yang ternyata sangat kompleks.[10]


BAB III
KESIMPULAN / PENUTUP

1.      Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang diperoleh dari hasil latihan dan pengalaman dan didukung interaksi individu dengan lingkungannya .
2.      Arti penting belajar, belajar merupakan riset dan eksperimen psikologi dalam memahami proses perubahan manusia.
3.      Prinsip-prinsip belajar
v  Bersifat psikologis
Ø   Motivasi
Ø   Pengalaman sendiri
Ø   Keingintahuan
Ø   Pemecahan masalah
Ø   Berfikir analistis-sintenin
Ø   Perbedaan individual
v  Bersifat linguistik
Ø   Mudah menuju sukar
Ø   Sederhana menuju kompleks
Ø   Dekat menuju jauh
Ø   Pola menuju unsur
Ø   Penggunaan  menuju pengetahuan
Ø   Masalah bukan kebiasaan
Ø   Kenyataan bukan buatan
  1. Faktor yang mempengaruhi proses belajar
v  Factor internal
Ø  Aspek fisiologi
Ø  Aspek psikologi
v  Factor eksternal
Ø Lingkungan sosial
Ø Lingkungan non sosial
v  Factor pendekatan belajar
5.      Cara-cara belajar efektif
v  Metode SQ3R
v  Metode PQ4R
6.      Teori-teori pokok belajar
v  Teori belajar menurut ilmu jiwa daya
v  Teori tanggapan
v  Teori belajar menurut ilmu jiwa Gesalt
v  Teori belajar dari R. Gagne
v  Teori belajar menurut ilmu jiwa asosiasi ( sarbond)
·  Teori konektionisme ( Thorndike )
·  Teori conditioning
Alhamdulilah makalah ini dapat kami selesaikn dengan tiada hambatan yang berarti. Terima kasih kami sampaikan seluruh pihak yang membantu sehingga makalah ini selesai, khususnya kepada bapak dosen pembimbing. Kepada teman-teman Mahasiswa kami sampaikan terimakasih dan kompak selalu , semoga karya ini bermanfaat untuk kita semua. Amin

DAFTAR

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar. Solo : PT. Rineka Cipta, 2003.

Muhibbin Syah. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999.

Syaiful Bahri Djamarah. Psikologi Belajar. Banjarmasin : PT. Rineka Cipta, 2000.


[1] Muhibin syah. Psikologi Belajar. (Jakarta : PT Raja gratindo persada; 1999) P. 63
[2] Abu Ahmadi dan Widodo supriono. Psikologi Belajar (Solo : PT Renika cita; 2003) P. 127
[3] Syaiful Bahri Djamarah. Psikologi Belajar ( Banjarmasin : PT Renika cipta ;2000)
[4] Muhibin Syah. Psikologi Belajar ( Jakarta  : PT Raja grafindo persada.1999) P. 65
[5] Muhibib Syah . Psikologi Belajar (Jakarta : PT Raja grafindo persada, 1999) P. 69
[6] Muhibin Syah .  Psikologi Belajar (Jakarta : PT Raja grafindo persada , 1999) P. 59
[7] Syaiful Bahri Djamarah. Psikologi Belajar (Banjarmasin : PT Rineka cipta,2000) P.69-72
[8] Muhibin Syah . Psikologi Belajar ( Jakarta : PT Raja grfindo persada,1999) P. 144-155
[9] Muhibin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,1999) P. 140-144
[10] Syaiful Bahri , Psikologi Belajar ( Banjarmasin. PT. Rineka Cipta ,2000 )P. 17-27